9/13/26

Riset dan Pemantauan Ekosistem Mangrove, Mangrove Map Laksanakan Riset Struktur Komposisi Mangrove Hasil Rehabilitasi kepada WALHI di Tambakrejo Semarang dan Bedono, Demak

Semarang dan Demak - Mangrove Map. Dalam rangka memastikan keberlanjutan dan keberhasilan ekosistem mangrove hasil kegiatan rehabilitasi, Mangrove Map kembali melaksanakan riset dan pemantauan ekosistem mangrove pada lokasi hasil rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan beberapa tahun yang lalu. Riset dan pemantauan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). (8–9/7/2026). 

Kegiatan riset dan pemantauan dilaksanakan di kawasan rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan oleh WALHI, yaitu di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang dan Desa Bedono, Kabupaten Demak. Kegiatan riset dan pemantauan ini dilaksanakan untuk mengetahui kondisi vegetasi mangrove pada lokasi rehabilitasi. 

Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan rehabilitasi serta perubahan kondisi ekosistem mangrove pada kedua lokasi. Hasil riset dan pemantauan tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi pengelolaan dan tindak lanjut guna mendukung keberlanjutan ekosistem mangrove. 

Kegiatan riset dilaksanakan oleh Mangrove Map yang diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan M. Ryan Setiawan (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) di mana riset dilaksanakan dalam jangka waktu dua hari untuk dua lokasi riset dan pemantauan. 

Data yang diambil meliputi kondisi lingkungan, komposisi jenis mangrove, struktur vegetasi mangrove, analisis vegetasi mangrove, keanekaragaman vegetasi, dan evaluasi keberhasilan rehabilitasi, dan rekomendasi lanjutan terhadap hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan. 

Riset dan pemantauan hari pertama dilaksanakan di kawasan rehabilitasi di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, di mana lokasi ini dibagi menjadi empat stasiun yang tersebar di kawasan tersebut mewakili empat tahun berbeda. 

Kemudian, riset di hari kedua dilaksanakan di kawasan Desa Bedono, Kabupaten Demak di mana stasiun penelitian tersebar menjadi tiga stasiun mewakili tiga lokasi rehabilitasi di tiga tahun berbeda. 

“Pada hari pertama, kami melaksanakan kegiatan riset dan pemantauan di kawasan rehabilitasi Kelurahan Tambakrejo yang telah dilaksanakan oleh WALHI mulai tahun 2023 hingga 2026. Kemudian, pada hari kedua riset dan pemantauan dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Desa Bedono, Kabupaten Demak yang merupakan lokasi rehabilitasi mulai tahun 2024 hingga 2026,” jelas Agape. “Harapannya hasil yang didapatkan dapat menjadi evaluasi dan rekomendasi untuk kegiatan rehabilitasi selanjutnya. Hasil ini juga dapat memberikan gambaran mengenai kebermanfaatan dan keberlanjutan dari hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan,” tambahnya. 

Kegiatan riset dan pemantauan yang dilaksanakan di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, dan Desa Bedono, Kabupaten Demak, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekosistem mangrove hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan pada beberapa tahun sebelumnya. 

Data yang diperoleh melalui kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mengevaluasi perkembangan vegetasi mangrove serta keberhasilan rehabilitasi di masing-masing lokasi. Hasil riset dan pemantauan selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi pengelolaan dan tindak lanjut rehabilitasi mangrove. 

Melalui kolaborasi antara IKAMaT, Mangrove Map, dan WALHI, kegiatan riset dan pemantauan ini diharapkan dapat mendukung upaya pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan serta memastikan manfaat rehabilitasi dapat terus dirasakan oleh lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi. (ADM/ARH/ALA/AP).

No comments:

Post a Comment